APA DAN BAGAIMANA “ASD” ITU !?

Bagaimana mengenali gejalanya?
Orangtua adalah orang pertama yang paling tahu tentang anaknya. Jika orangtua mencurigai adanya sesuatu yang salah, mungkin saja benar. Tapi ada beberapa kesulitan antara lain:

  1. Mencari tahu apa masalahnya.
  2. Sebesar apa masalah ini (tingkat keseriusan)
  3. Ke mana mereka mencari bantuan (mengecek kekhawatiran)

Apakah autisme itu?
ASD atau gangguan spektrum autisme adalah gangguan perkembangan yang secara umum tampak di tiga tahun pertama kehidupan anak. Autisme menyebabkan kemampuan bahasa, bermain, kesadaran diri, sosial, dan penyesuaian diri anak tidak berfungsi dengan baik. Penyebabnya belum diketahui dengan pasti, tapi beberapa pendapat menunjuk pada penyebab fisiologis seperti kelainan syaraf pada beberapa daerah di otak.

Perkiraan terakhir ASD termasuk semua spektrumnya didiagnosa 2-7 anak per-1000 kelahiran. Dan 10 persen berada di tingkat keparahan ini bergantung pada penelitian mana yang kita baca dan di negara mana penelitian itu diadakan. Perbandingannya 4:1 anak laki-laki lebih banyak. Secara garis besar bisa diamati bagian mana pada anak?

  • Komunikasi dan bahasa
  • Sosialisasi
  • Persepsi
  • Tingkah laku

Petunjuk sederhana perbedaan itu
Sosialisasi adalah bagaimana anak berhubungan dengan orang lain. Berdasarkan pengalaman kami, anak-anak ASD sulit memahami pikiran dan memiliki pandangan berbeda dengan anak lain pada umumnya. Perbedaan ini dapat kami amati pada hal-hal di bawah ini:

  • Tidak adanya kontak mata.
  • Kurang/tidak menggunakan sikap tubuh dan ekspresi wajah dalam berkomunikasi.
  • Tidak mampu bermain dengan anak lain dan berteman.
  • Kurang berbagi dan saling bergantian.
  • Kurang memahami emosi orang lain dan menyayangi (contoh: bersikap yang benar saat orang lain merasa kesal).
  • Berbagi kegairahan dan kesenangan dengan yang lain (kolektif dan referensi).

Kesulitan bahasa, komunikasi dan gangguan imajinasi merupakan aspek utama dan termasuk di dalamnya:

  • Keterlambatan perkembangan bahasa dengan beberapa usaha untuk mengomunikasikan dan kompensasi dengan sikap tubuh.
  • Untuk anak-anak dengan perkembangan bahasa yang lebih baik (normal) ada masalah di:
  • memulai dan mempertahankan percakapan
  • masalah bahasa abstrak dan tendensi membawa semua hal menjadi hal yang fakta.
  • bahasa yang tak biasa, aneh atau penggunaan berulang.
  • Keterlambatan dalam memperoleh keterampilan pura-pura (kemampuan imajinasi yang fleksibel).

Ada beberapa tingkah laku aneh/tidak biasa, berulang yang berhubungan dengan anak tidak memahami subtansi atau esensi sebuah situasi. Contoh:

  • Anak terpaku secara intens.
  • Terpaku pada hal-hal yang tidak biasa.
  • Terpaku secara sensori, terpaku dengan pola atau gerakan-gerakan objek.
  • Rutinitas yang intens/kumulatif dan bermasalah menghadapi rutinitas.

Perlu Diperhatikan

  1. Tidak ada ciri tetap maupun pola yang sama pada setiap anak.
  2. Tidak ada umur tertentu gejala mulai dilihat.
  3. Cirinya bervariasi contohnya, Anak A mungkin menghindari kontak mata, tapi anak B menghindari tidak semua kontak mata.
  4. Jika anak anda memiliki beberapa ciri yang sama bukan berarti ASD
  5. Pengasuhan yang buruk bukan pencetus ASD.
  6. Autisme tidak dapat dideteksi sejak lahir, ini bukan kendala biologis, tidak ada tes darah untuk mendeteksi saat anak baru lahir

Beberapa keterangan orangtua
Gejala-gejala dalam 1-2 tahun usia anak. Tidak ada ciri yang nyata. Pada beberapa bayi sangat pasif, yang lain tak mau diam, semua bayi punya kecenderungan sendiri-sendiri. Sebagian besar orangtua yang anaknya kemudian didiagnosa autisme berkomentar bahwa bayi mereka tampak normal di bulan-bulan awal, meskipun banyak orangtua bertambah khawatir adanya sesuatu yang tidak normal di tahun pertama. Beberapa keluarga bercerita bayinya sangat pasif atau cepat terganggu, bayi  tak mudah ditenangkan.

Sebagian lagi menggambarkan bayi yang jarang menatap wajah atau muka orangtuanya dan sulit berceloteh atau meniru gerakan juga suara orangtuanya. Ini adalah tanda-tanda yang perlu diperhatikan dan dibicarakan dengan tenaga medis.

Beberapa anak agak terlambat perkembangannya meskipun yang lain tampak berkembang normal. Sebagai contoh, pada usia 12 bulan anak-anak akan merangkak atau mulai berjalan, berdiri jika dipegang, bicara kata tunggal “Mama” atau “Papa”, melakukan sikap tubuh secara sederhana, seperti melambaikan tangan. Jika anak mencapai kemajuan ini, ia akan mengembangkan keterampilannya dalam beberapa bulan ke depan atau sebaliknya. Titik-titik di mana anak terlambat mungkin adalah kesulitan yang lain, walaupun tidak berarti austisme .

Apakah perkembangan tertunda itu?
Secara garis besar yang tertunda dapat disebut di bawah ini:

  • Bahasa
    1. Bahasa tampak jelas tertunda.
    2. Bahasa tidak matang/tidak sampai waktu yang berkepanjangan.
    3. Kurang mampu memahami, memproses, mengungkapkan bahasa lisan.
    4. Sering menggunakan kata “apa-apa“ terutama kalau disuruh melakukan sesuatu, berarti “aku tidak tahu”.
    5. Idenya membingungkan, sulit mengingat nama benda, warna, nama mainan.Contoh :
      Peter, 5 tahun, berkata:
      “Waktu anuku itu, wanita (guru) meletakkan anu (panci) di atas benda itu untuk masak (kompor) popcorn jadi hitam.”
    6. Sulit memahami dan memproses yang ia katakan.
    7. Idenya membingungkan dan berputar-putar.
  • Perilaku
    1. Sulit berkomentar.
    2. Kurang cermat, sering tidak mampu merawat benda-benda yang dimilikinya.
    3. Impulsif (tiba-tiba melepaskan pikiran, meninggalkan tugas di sekolah).
    4. Sulit menerapkan apa yang diketahui.
    5. Anak laki-laki cenderung lebih hiperaktif, agresif, mengganggu di kelas.
    6. Anak perempuan cenderung menutupi problem mereka.
    7. Anak kecil yang menolak/enggan dengan perubahan, sulit berkunjung
      (anak akan menangis jika ayahnya mengambil rute lain).
    8. Kemauannya selalu ingin dituruti, emosi makin lama makin meledak.
  • Persepsi
    Persepsi adalah bagaimana anak-anak memahami dan memproses informasi yang masuk lewat panca indra, seperti: melihat itu dengan mata tapi memproses dan mamahami apa yang dilihat dengan pikiran.

    1. Bingung arah seperti kanan, kiri dan lain-lain.
    2. Sulit membedakan antara ilusi/imajinasi dengan kenyataan. Biasanya ditandai oleh ekspresi muka yang misterius.
    3. Anak kecil yang kelihatannya kaku.
    4. Hanya menangkap sepotong kecil yang ia dengar.
    5. Berpikir lompat-lompat.
    6. Ganggunan sensori.

Perlu diperhatikan

  1. Autisme adalah gangguan perkembangan yang secara normal menjadi nyata dalam tiga tahun pertama kehidupan anak.
  2. Autisme punya kisaran yang luas dalam temperamen dan IQ.
  3. Simptomnya atau gejala-gejalanya bervariasi.
  4. Autisme bukan penyakit “terkena” sebab tidak disebabkan pengasuhan yang buruk

Apa penyebab autisme itu?
Sangat sulit menentukan faktor apa saja yang menyebabkan autisme. Para profesional bertahun-tahun mencoba mengidentifikasi penyebab khusus dari autisme. Beberapa referensi yang saya baca bahwa riset mutakhir memusatkan perhatian pada perbedaan anatomi dalam otak, faktor genetik dan cacat biokimia. Semua tampaknya akan menghasilkan penemuan yang memberi harapan, namun untuk sekarang ini banyak faktor penyebab autisme berinteraksi dan berinterelasi di dalam individu autisme dan tidak bisa dikenali secara khusus.

Bagaimana pun juga beberapa dugaan yang menyebabkan autisme sebagai berikut:

  1. Penelitian genetik tentang anak kembar membuktikan faktor genetik berperan penting. Bila salah satu anak menunjukkan gejala spektrum autistik, maka kembarannya punya resiko yang tinggi memiliki gangguan yang sama. Saudara kandung dari anak tersebut punya kecenderungan yang lain, misalnya masalah tingkah laku dan kesulitan belajar. Di Jakarta cukup banyak keluarga yang memiliki lebih dari satu anak autisme.
  2. Trauma prenatal, natal, postnatal
    Kelahiran prematur, berat badan turun pada masa kehamilan, kekurangan oksigen ke otak pada saat kehamilan dan proses kelahiran juga berpengaruh dalam banyak kasus. Usia ayah dan ibu saat memiliki anak juga turut andil menjadi faktor penyebab, baik sendiri atau berinteraksi dengan faktor lain.
  3. Gangguan susunan saraf pusat
    Ditemukan juga kelainan neuroanatomi (anatomi susunan syaraf pusat) banyak anak autisme mengalami pengecilan otak kecil terutama labus VI-VII. Seharusnya di labus VI-VII banyak terdapat sel purkinje, namun pada anak autisme sel purkinje sangat kurang. Akibatnya produksi serotonin kurang menyebabkan kacaunya proses penyaluran informasi antar otak.
    Selain itu ditemukan kelainan struktur pada pusat emosi di dalam otak sehingga emosi anak autis sering terganggu. Penemuan ini membantu dokter menentukan obat yang tepat. Obat-obatan yang dipakai adalah dari jenis psikotropika yang bekerja pada susunan syaraf pusat, hasilnya menggembirakan karena beberapa anak tertolong dengan obat-obatan ini sehingga pelaksanaan terapi lainnya lebih mudah.
  4. Gangguan sistem pencernaan
    Ada hubungan antara gangguan pencernaan dengan gejala autism. Beberapa penderita kekurangan enzim sekretin dan setelah diberi suntikan sekretin anak mengalami perbaikan pencernaan dan terapi lain berkembang lebih baik. Kasus ini memicu penelitian-penelitian yang mengarah pada gangguan metabolisme pencernaan.
  5. Racun dan logam berat dari lingkungan
    Faktor lingkungan diduga keras berperan dalam munculnya gangguan autistik, berbagai racun yang berasal dari pestisida, polusi udara dapat mempengaruhi kesehatan janin, hasil tes darah dari sejumlah anak autisme menunjukkan kadar logam berat (mercuri, timbal, timah) lebih tinggi dari pada anak biasa. Tapi asal muasal logam berat dalam tubuh masih menjadi pertanyaan, apakah sudah ada sejak bayi lahir atau karena terpapar dari lingkungan.

Ke manakah orangtua harus pergi?

  1. Psikolog klinis anak (psikolog khusus perkembangan anak).
  2. Psikiater anak (psikiater khusus perkembangan anak).
  3. Terapis wicara.
  4. Tim perkembangan anak (OT, fisioterapi, ortopedagog, biasanya ada di RS/praktek independen).

Apa yang dilakukan para spesialis?
Walaupun bervariasi, tapi ada beberapa skenario yang hampir serupa. Spesialis dengan orangtua. Spesialis akan bicara dengan orangtua tentang anaknya, terutama kekhawatirannya. Bertanya tentang kehamilan dan kelahiran anak, temperamen, pencapaian perkembangan, tidur, sejarah medis, tingkah laku dan interaksinya dengan orang lain dan anak-anak lain.

Spesialis dengan anak kita

  • Bermain. Sebagian besar pengujian dengan anak-anak adalah saat bermain anak-anak selalu merasa senang dan tak sadar sepenuhnya bahwa tujuan di balik permainan ini adalah pengujian.
  • Berbicara. Spesialis dengan anak yang lebih besar akan melakukan obrolan tidak  formal dan beberapa permainan sesuai dengan umur dan juga tes.

Berapa lama orangtua menunggu diagnosa?
Spesialis menentukan hasil diagnosa akan sangat bervariasi, tergantung setiap anak. Jika masalah anak ada di ujung keparahan autisme, diagnosa diputuskan saat itu juga. Tapi idealnya memerlukan waktu 3-4 kali pertemuan antara spesialis dengan anak untuk melihat dalam situasi yang berbeda.
Autisme dapat sulit didiagnosa karena beberapa tingkah laku yang tumpang tindih dengan diagnosa yang lain.
Contoh:

  • Seorang anak yang tidak merespon panggilan orang lain bisa saja kerusakan pendengaran.
  • Beberapa anak memiliki temperamen pemalu dan perlu waktu untuk merasa nyaman saat berkumpul denga anak-anak lain atau orang dewasa.
  • Kadang-kadang depresi mengarahkan seorang anak bersikap seperti autisme.

Para ahli akan menggunakan pengetahuan teoritikal yang luas tentang karakteristik autisme. Ada ratusan buku, mayoritas panjang dan rumit, meskipun secara umum dibaca oleh spesialis, banyak orangtua berpendapat mereka tidak punya waktu untuk membaca dan mengerti teorinya. Meskipun proses pengujian dapat berlangsung lama dan membuat frustrasi, ini penting, pengalaman kami bekerja dengan berbagai keluarga menunjukkan bahwa memahami prognosa dan diagnosis adalah cara terbaik membantu anak-anak mereka.

Beberapa alat tes yang sering digunakan

  • Wawancara orangtua dapat dilakukan selama kurang lebih tiga jam
    (autisme diagnosa interview revise/ADI-R).
  • Pengujian dengan permainan bersama anak kecil, perbincangan informal terstruktur dengan anak-anak lebih tua kurang lebih satu jam (autisme diagnosa observation schedule).
  • Pengujian tentang tingkah laku anak-anak (children’s autisme rating scale).
  • Pemeriksaan secara garis besar (sekitar 10 menit)  untuk anak-anak usia 1 tahun. Tujuannya mengecek beberapa hal seperti: permainan pura-pura, menunjukkan rasa ketertarikan dan keinginan bergabung.
  • Tes-tes lain, seperti tes wechsler intelligence scale for children-revised (WISC-R).

Beberapa alat tes di atas merupakan kriteria diagnosa yang banyak dijadikan acuan. Tapi di Indonesia kebanyakan mengacu kepada American Psychiatri Association (APA), the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, edisi ke-4 (DSM – IV) 1994 dan rumusan dari WHO, ICD-10 (international classification of diseases) 1993.

Mungkinkah diagnosa itu tumpang tindih atau salah diagnosa? Membuat diagnosa harus hati-hati dan sering direvisi (diperbaharui) untuk menghindari tumpang tindih dan salah diagnose. Karena dengan kasus yang sama si ahli/spesialis bisa saja memandang dari sisi teori yang berbeda, karena latar belakang pendidikan. Dan karena berjalannya waktu anak mendapatkan penanganan akan menjadi  progres (lebih baik).

Jika spesialis menemukan adanya masalah yang signifikan dengan bahasa dan tingkah laku berulang, tapi anak tidak bermasalah dalam sosialisasinya, mungkin bukan autism. Anak ini tetap memerlukan penanganan, hanya saja diagnosa berbeda perlu penanganan berbeda.

Contoh:
Anak berumur 2 tahun memperlihatkan tingkah laku berulang seperti membariskan mainan dengan cara tertentu, memaksa minum dengan gelas yang sama, dapat berhitung dengan baik, dan punya keterampilan bahasa dan komunikasi. Kemungkinan dia memiliki gangguan obsesif kumulatif, tapi sejenis di atas, anak dengan gangguan bahasa ini mungkin mempunyai cacat bahasa spesifik.

Ada beberapa kriteria di dalam ASD?

  • Pervasive developmental disorder (PDD)
  • Pervasive developmental disorder not otherwise specified (PDD Nos)
  • ADHD dan ADD
  • Autisme high function
  • Sindrom aspeger

Kategori PPD adalah jika seorang anak mengalami keterlambatan tiga hal utama, yaitu sosialisasi, bahasa dan komunikasi, tingkah laku yang bermakna (parah/meresap). Apabila dari tiga kriteria ada yang tidak terpenuhi maka akan digunakan kriteria PDD Nos, diagnosa ADD dan ADHD.

Anak-anak ini sangat dominan dalam bergerak terus menerus dan impulsifitas. Dalam ADD dan ADHD pun dibagi tiga kategori ADHD, yaitu hiperaktif yang dominan, ADHD impulsifitas yang dominan, atau kombinasi keduanya.

Autisme high function adalah anak-anak yang cacat dalam komunikasi tapi memiliki tingkat yang kognitif dan belajar yang baik. Sementara  sindrom asperger adalah anak-anak yang di usia 2-3 tahun didiagnosa autisme, tapi setelah mendapat penanganan, perbaikannya nyata dan menonjol dalam bahasa. Asperger berada pada hirarki yang paling tinggi dalam autisme.

Ada beberapa pendekatan untuk menangani autistik

  • Pendekatan ABA (Applied Behavioural Analysis)
    Penanganan ini merupakan jenis program intensif yang berdasarkan terapi tingkah laku dan biasa digunakan untuk menjelaskan banyak program sekitar Lovaas.
    Poin utama pendekatan:
  • Melibatkan 40 jam dalam seminggu,
  • Pendekatan berbasis rumah dan anak
  • Program terstruktur di sini mengacu pada work in progress, more than words
  • Terapis terlatih untuk memandu program dan memberi nasehat, dukungan untuk yang lain
  • Orangtua harus terlibat
  • Program menggunakan penguat positif untuk mendorong pembelajaran dan kepatuhan menjadi fokus utama pendekatan.
  • Pendekatan sensori integrasi (SI)
    Pendekatan SI berdasarkan teori bahwa beberapa sistem saraf anak tidak terintegrasi dalam memahami input sensori (apa yang kita lihat, kita sentuh, kita dengar dan sebagainya). Tujuannya menawarkan perbaikan sistem kerja otak melalui stimulasi dari luar.
    Beberapa aktivitas terapi sensori integrasi.
  • Terapi dirancang untuk memberikan rangsangan pada keseimbangan, gerak, posisi sendi, tekanan, perabaan, auditori, visual.
  • Disesuaikan dengan kebutuhan anak
  • Diberikan 1-2 kali seminggu
  • Terapis mengarahkan kegiatan yang dapat memberikan tantangan dan terus ditingkatkan kesulitannya
  • Pendekatan floor time. Yaitu suatu pendekatan yang berbasis bermain. Ketika anak bermain, Anda ikut bermain tetapi keterlibatan kita memegang peranan penting. Tugas kita adalah mengikuti langkah-langkah yang diminati anak, tapi kerjakan dengan mendorongnya berinteraksi dengan Anda.

Beberapa poin utama pendekatan ini:

  • Mendorong munculnya atensi dan keakraban dengan menciptakan kegembiraan.
  • Menciptakan komunikasi dua arah, dengan bermain.
  • Mendorong munculnya ekspresi emosi dan penggunaan perasaan serta gagasan.
  • Penanganan dengan mendorong anak dari pengalaman logis
  • Pendekatan terapi wicara, hampir semua anak ASD mengalami kelainan bicara dan bahasa. Pertama seorang terapis wicara akan melakukan assesmen/observasi, lalu dievaluasi untuk selanjutnya dapat ditegakkan diagnosa kemudian akan ditentukan metode berdasarkan beberapa aspek gangguan wicara seperti :
    • Gangguan bahasa: dislogia, afasia
    • Gangguan bicara/artikulasi: dislalia, disatria, disglosia
    • Gangguan suara: berbisik, serak, tidak ada suara (afonia/disfonia)
    • Gangguan irama dan kelancaran: latah dan gagap
  • Pendekatan terapi okupasi (OT)
    Terapi ini selain fisik juga mencakup pengembangan intelektual, sosial, emosi, dan kreatifitas. OT identik dengan latihan motorik halus dan latihan motorik kasar.
    Ada tiga fungsi dasar dari OT:
    • Pemulihan fungsional, yaitu membuat pemulihan fungsi persendian, otot, dan kondisi tubuh pada umumnya sesuai kebutuhan.
    • Fungsi persiapan, yaitu memberi peluang pada anak menghadapi tugas pekerjaan atau keterampilan yang sesuai dengan kecerdasan.
    • Fungsi pemeliharan, yaitu menghindari penurunan mental, penurunan fungsi dan memelihara serta mengembangkan potensi kecerdasan.

Di atas adalah beberapa pendekatan yang lebih populer seklaipun terdapat beberapa pendekatan lain. Walaupun di antara pendekatan itu ada perbedaan dan pertentangan, tergantung anak itu sendiri. Perlu saya tekankan bahwa semuanya ternyata saling melengkapi dan apa pun pendekatan itu akan membawa ke arah perbaikan. Jarang sekali orangtua menggunakan satu pendekatan karena obyeknya adalah pertumbuhan dan perkembangan anak.

Contohnya: pendekatan Gleen Doman, pendekatan Son-rise, Teacch, PECS, AIT dan lain-lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: