Story of my life


Hallo semua !!!. Nama saya Krisna Hanifah, Jakarta. Saya seorang bapak dari anak ASD / ADHD ( Attention Deficit Heperactivity Disorder ). Namanya  Cecep Syarifudin panggil saja “Cepi”, dia seorang anak laki-laki, usianya 11 tahun. Saat ini dia sekolah di SD inklusi Purba adhika Lebak Bulus, sekarang “Cepy” duduk di kelas 6 SD sebentar lagi akan mengikuti UAN.

Tak pernah kami (saya dan istri) bayangkan bahwa “Cepi”, semata wayang dalam keluarga kami ternyata terdeteksi sebagai anak berkesulitan belajar. “Cepi” kecil, mengalami masa yang sama dan tak jauh beda seperti dengan anak-anak yang lain. Perhatian dan perlakuan kami pada “Cepi” memang agak berbeda, di karenakan kesibukan kami berdua, maka kami titipkan “Cepi” pada ibu mertua saya, karena pada saat itu istri saya masih harus menyelesaikan kuliahnya di salah satu PTS terkenal di Jakarta. Bahkan kedua mertua saya sangat sayang dan memanjakannya, mungkin karena “Cepi” cucu pertama di dalam keluarga dari pihak istri. Rasanya tak ada yang aneh dengan buah hati kami sejauh ini, namun suatu saat permasalahan muncul saat usianya menginjak tahun ke dua, saat ia berinteraksi dengan kami sekeluarga. Dia tak mau menatap mata kami ketika kami ajak dia berbicara, mulai melakukan Flapping, Clapping, dan ngoceh sendiri atau berbicara dengan bayangannya sendiri menggunakan bahasa yang aneh. Mulai saat itu dia selalu jadi pembicaraan dan pertanyaan orang banyak. . Khawatir, perasaan yang kami berdua rasakan. Rasa khawatir itu sering kami sampaikan pada kedua orangtua kami, namun tak kami temukan penjelasan yang mampu hapuskan rasa khawatir kami. Bahkan dengan meyakinkan, dokter mengatakan bahwa apa yang terjadi pada “Cepi” adalah hal biasa yang kerap terjadi pada anak laki-laki. Mereka mengatakan bahwa tiap anak memiliki perkembangan yang berbeda “Si Cepi hanya terlambat ngomong saja, tunggu aja nanti juga ada saatnya”….

Masalah “Cepi”, membuat kami meyakini bahwa segala yang ada dan terjadi, semua atas kehendak-Nya. Kami tak henti melakukan ikhtiar dan berdoa. Pertama kali yang sadar adalah kakak ipar saya yang dokter (masih koas or PTT pada saat itu) dia menyarankan untuk di periksakan ke dokter syaraf, karena dia telah bertanya dan menceritakannya pada dosennya tentang keadaan keponakannya. Saat itu juga kami langsung konsultasi dengan dokter anak yang memberi rujukan kepada dokter syaraf. Saat kami konsultasi dengan dokter syaraf, dokter menyarankan agar “Cepi” melakukan test EEG (rekam otak).

Tak semudah yang kami bayangkan, karena “Cepi” mempunyai fisik yang cukup besar dan tidak dapat diam untuk ukuran anak seusianya. Anak kami mengadakan “perlawanan” saat akan dilakukan test. Test EEG (rekam otak) dilakukan di RSCM Jakarta, jarak dari rumah mertua saya yang terletak di Pondok bambu Jakarta timur tak seberapa jauh memang tapi kami ingin test ini dapat berjalan dengan lancer dan dilaksanakan sesegera mungkin, maka kami sepakat untuk membiusnya supaya dia diam dan tertidur. Dari hasil observasi dokter dan hasil Test EEG (rekam otak) terdeteksi sebagai anak autism, istilahnya “Autism Spectrum Disorder” (ASD) tepatnya sindrom asperger autisme ringan (mild authisme).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: